• Sudahkah anda menulis Diari Cinta anda hari ini?
    Sebagai forumer Forum Tentang Cinta, anda kini boleh menulis dan mencoret kisah manis cinta anda di ruangan Diari Cinta. Hanya satu diari sahaja ya dibenarkan untuk setiap seorang.

cerpen; Mama Bolehkan Aku Menikah?

cincin

New Member
“...Cinta dan rasa ini adalah gerakan otak yang kemudian memperkosa hati, ketika aku berusaha lari darinya justru ia telah diikatnya erat dalam sebuah sekapan..."​

Mama, Aku masih mencintainya. Bolehkah aku menikah?

<><><>​

Sepertinya aku sedang kena candu yang namanya jatuh cinta.

Mama, aku telah jatuh cinta. Bolehkah aku menikah?

<><><>​

Dulu sepuluh tahun lalu ketika aku berusia 15 tahun adalah satu hal yang mengejutkan bagi mama mendengar anak perempuan satu-satunya tiba-tiba minta nikah. Mama menatapku dengan lembut sambil tersenyum manis, kemudian menatapku dari bawah keatas kemudian kebawah lagi, dia pegang keningku, kemudian mengelus perutku yang semakin tipis. Waktu itu aku sangatlah kurus kecil dan pendek. Karena aku masih belum jadi perempuan sesungguhnya saat itu. (Hingga mama khawatir aku tumbuh sebagai perempuan tidak normal )

“Kamu kenapa?” Tanya mama.

“Aku suka sama ketua Osis sekolah, Ma.” Jawabku dengan bibir monyong.

“nak,... “ Mama tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Sedang aku merasa apa yang perlu ditertawakan? Lucukah?

“Kok Mama ketawa sih,”

“Nak, suka lawan jenis itu wajar, tapi bukan berarti harus nikah sekarang juga. Kamu masih kecil jalan kamu masih panjang. Sekolah aja belum lulus, gimana mau nikah?”

“Trus, kalo dia nanti nikah duluan gimana?”

“Itu berarti dia tidak mencintai kamu, sayang. Ngerti?” Mendengar ucapan Mama, aku menjadi semakin lega, semakin yakin kalau nanti udah gedhe aku pasti akanmenikah dengan dia (ini hayalan pertamaku menjadi orang dewasa )

Hehehe... pengin ketawa mengingatnya.

<><><>
Setahun kemudian Mama memasukkan aku ke sebuah Pesantren dekat sekolah, disanalah segala kehidupan aku mulai, aku mulai belajar mandiri, tahu bagaimana hidup bersosial. Dan yang terpenting aku semakin tahu bahwa ternyata Islam tak pernah mengajarkan tentang pacaran. ( saat itu aku memang belum pernah pacaran )


<><><>​


وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً


Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. [QS; AL Isra; 32]

Aku ingat seperti itulah Pak ustadz pernah bilang, pada satu sore di depan para santrinya. Aku mendengarkan sambil mengiyakan.

<><><>​

Kemudian ketika aku berusia 19 tahun, dia datang...

Dia yang dulu jadi ketua Osis kala masih duduk di SMP, ( Inikah ujian atau nikmat Tuhan untukku?) Dia menawarkan satu kalimat indah yang belum pernah aku bayangkan,

“Maukah kau jadi pacarku?”

Aku diam, tak ada yang bisa ku lakukan. Mengiyakan berarti aku akan pacaran, karena mencintainya adalah keinginan hati, dan “tidak” itu berarti aku akan kehilangan kesempatan . Aku bimbang. Kedatangannya benar-benar sebuah harapan setiap anak muda dimasa pubertas.

Setelah itu tak ada yang bisa aku lakukan selain diam-diam menyimpan perasaan suka ini dalam hati dan hanya sekilas melihat bayangannya sambil lalu. Aku hanya melihatnya dari kejauhan tanpa berani menyapa apalagi menatapnya. Karena aku tahu lelaki dan perempuan dilarang untuk saling berpandangan, demikian yang pernah pak ustadz sampaikan.

Rasulullah SAW, bersabda :

Yang artinya :” Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya”. [Hadist shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan muslim ]

Hingga satu malam, sekali lagi aku bilang pada Mama, “Ma, bolehkah aku menikah?” Kali ini wajah Mama tak setenang seperti ketika aku masih berusia SMP, Raut muka Mama kali ini benar-benar terkejut kaget.

“Kamu, hamil?” Itu pertanyaan pertama yang Mama lempar sebagai tendangan penalti padaku. Seketika orang rumah saat itu juga menatapku dengan tampang-tampang aneh.

“Kenapa kalian menatap aneh padaku?”

“Kamu hamil, dan kamu ingin nikah? Siapa lelaki...”

“Mama...” aku memotong serangan mama kali ini. Dalam hati aku berpikir kenapa Mama udah tak selembut hadapi pertanyaanku seperti 4 tahun lalu?

“Lalu, kenapa?”

“Aku mencintai seseorang.”

“Ketua Osis itu?”

“Hmm...” Aku hanya mengangguk.

Mama sudah kehilangan kata untuk bicara selain mengatakan hal yang sama seperti 4 tahun lalu.

<><><>​

Pacaran secara islam, adakah? Lalu kenapa dia hanya menawarkan aku untuk jadi pacarnya saja? Kenapa dia tidak langsung bilang “kita nikah saja?”

Kenapa Pacaran harus dikatakan sebagai media pengenalan, tapi kenyataannya masih juga ada perceraian.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُحَرِّمُواْ طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللّهُ لَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ



....Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas... [QS; Al Maidah ;87]

)|(​

Aku masih diam tanpa jawaban, tak juga kalimat dalam selembar surat. Sampai saat ini.

Seperti yang pernah Mama bilang kalau dia mencintaiku dia pasti akan datang kerumah, seperti halnya dia pernah datang memintaku menjadi pacarnya.

Dan kini, 7 tahun sudah penantian ini.

“Mama, masihkah dia menanti untuk diriku ataukah dia telah terbang seperti gerombolan burung elang diatas sana yang selalu singgah dalam tiap ranting pohon?”

Tamat​



[ Ta, cincin ]
 
Top